Ciri-Ciri Pola Pikir Mistis yang Tanpa Sadar Kita Miliki

Simbol dan Kepercayaan
Makna simbol, benda tertentu, kepercayaan, tanda, dan pertanda dalam kehidupan manusia serta hubungan antara keyakinan, pengalaman, dan kenyataan.
Ilustrasi seseorang yang tanpa sadar menghubungkan kebetulan, pertanda, firasat, benda keberuntungan, dan kejadian sehari-hari melalui pola pikir mistis, dalam gaya lukisan pensil hitam putih.
Pola Pikir Mistis: Ciri-Ciri dan Kebiasaan yang Sering Tidak Disadari

Pernah tidak, setelah melakukan sesuatu, muncul pikiran, “Kalau tadi aku tidak melakukan itu, jangan-jangan hasilnya jadi begini”? Atau sebaliknya, ketika menginginkan hasil tertentu, kita merasa perlu melakukan tindakan tertentu supaya hasilnya sesuai dengan yang diharapkan?

Hal seperti itu ternyata tidak selalu terasa aneh ketika terjadi pada diri sendiri. Aku juga pernah mengalaminya. Ada saat ketika sebuah tindakan aku hubungkan dengan hasil yang belum terjadi. Kalau tindakan itu dilakukan, aku berharap hasilnya lebih baik. Kalau tidak dilakukan, muncul kekhawatiran akan gagal, hasilnya tidak maksimal, atau kejadian yang tidak diinginkan akan terjadi.

Dari situ aku mulai menyadari bahwa cara berpikir seperti ini tidak selalu terlihat seperti kepercayaan terhadap hal mistis. Seseorang bisa tetap menjalani kegiatan sehari-hari, tetapi diam-diam menghubungkan tindakan, kejadian, atau benda tertentu dengan hasil yang akan terjadi.

Hal serupa juga bisa terlihat ketika seseorang mulai mencari pertanda dari kejadian yang sebenarnya biasa. Hewan yang tiba-tiba muncul di depan rumah, perasaan yang datang sebelum melakukan sesuatu, atau kejadian yang kebetulan terjadi setelah tindakan tertentu bisa dianggap sebagai petunjuk.

Karena itu, tulisan ini bukan untuk menentukan siapa yang percaya atau tidak percaya pada hal mistis. Aku lebih tertarik melihat kebiasaan berpikir yang mungkin muncul tanpa disadari, terutama ketika seseorang mulai menghubungkan kejadian, mencari pertanda, memperkirakan hasil, atau menjadikan kejadian sebelumnya sebagai acuan untuk menentukan apa yang akan dilakukan berikutnya.

Lalu, seperti apa ciri-ciri pola pikir mistis yang sebenarnya bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari?

Lanjut baca:

Langsung Mengaitkan Kejadian dengan Hal Mistis

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Salah satu cirinya terlihat ketika kejadian yang sebenarnya biasa langsung dikaitkan dengan hal mistis. Hubungan tersebut kadang muncul begitu saja tanpa sempat dipikirkan apakah kejadian pertama memang mempunyai kaitan dengan kejadian berikutnya.

Contohnya cukup sederhana. Seseorang baru saja membicarakan orang tertentu, lalu orang itu tiba-tiba menghubungi. Kejadian tersebut bisa langsung dianggap sebagai tanda bahwa orang yang dibicarakan sedang memikirkan dirinya.

Ada juga yang ketika bersin beberapa kali langsung menganggap ada orang yang sedang membicarakan dirinya. Ketika keluar rumah lalu melihat hewan tertentu, kejadian itu bisa dianggap sebagai pertanda baik atau buruk sebelum benar-benar terjadi apa pun.

Menjatuhkan benda, mendengar suara tertentu pada malam hari, melihat sesuatu yang tidak biasa di jalan, atau tiba-tiba merasa tidak enak juga bisa mendapatkan penafsiran serupa. Kejadian yang sebenarnya dapat terjadi secara biasa kemudian dihubungkan dengan sesuatu yang dianggap gaib.

Hal seperti ini sering kali tidak terasa sebagai bentuk kepercayaan yang besar karena hanya muncul dalam pikiran atau ucapan singkat. “Jangan-jangan ini pertanda,” misalnya, lalu pikiran tersebut lewat begitu saja. Namun, ketika kebiasaan itu terus dilakukan, kejadian sehari-hari semakin sering dilihat melalui hubungan dengan hal mistis.

Contoh yang lebih jelas juga bisa ditemukan ketika seseorang mengalami hasil yang tidak sesuai harapan. Orang yang disukai tidak membalas perasaan, jualan tiba-tiba sepi, atau badan terasa tidak enak dapat langsung dikaitkan dengan pelet, aura, gangguan gaib, atau pengaruh tertentu.

cirinya bukan sekadar seseorang percaya pada hal mistis. Yang terlihat justru kebiasaan menjadikan hal gaib sebagai dugaan awal ketika menghadapi kejadian tertentu, termasuk kejadian yang sebenarnya sangat biasa.

Menganggap Kebetulan dan Kejadian Biasa sebagai Pertanda

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Ketika kebetulan mulai dianggap sebagai pertanda. Kejadian yang sebenarnya bisa saja berlangsung secara biasa kemudian dianggap mempunyai hubungan dengan sesuatu yang akan terjadi.

Misalnya seseorang baru saja memikirkan orang tertentu, lalu beberapa saat kemudian orang itu menghubunginya. Karena waktunya terasa berdekatan, kejadian tersebut bisa dianggap sebagai tanda bahwa ada hubungan antara pikiran tadi dengan pesan yang masuk.

Contoh yang lebih sederhana juga bisa terjadi ketika seseorang keluar rumah lalu melihat kelabang tepat di depan pintu. Jika sejak awal kelabang dianggap sebagai pertanda tertentu, kemunculannya bisa membuat seseorang berpikir bahwa akan ada kejadian baik atau buruk pada hari itu.

Bukan hanya hewan. Pasir, batu, debu, suara, angka, benda yang ditemukan di jalan, atau kejadian kecil lainnya juga bisa dianggap sebagai petunjuk. Padahal, benda-benda tersebut bisa saja memang berada di tempat itu tanpa berkaitan dengan urusan yang sedang dipikirkan.

Kebetulan seperti ini juga bisa terasa semakin meyakinkan ketika setelahnya terjadi sesuatu yang dianggap sesuai. Misalnya melihat tanda tertentu sebelum bepergian, kemudian perjalanan berjalan lancar. Kejadian itu bisa membuat tanda tadi kembali dicari ketika hendak bepergian pada kesempatan berikutnya.

Dari situ, kejadian yang awalnya hanya kebetulan bisa berubah menjadi patokan pribadi. Seseorang mulai memperhatikan benda, hewan, suara, angka, atau kejadian tertentu karena sebelumnya pernah menganggapnya sebagai pertanda.

Jadi, pertanda tidak selalu muncul dalam bentuk kejadian yang aneh. Kejadian yang sangat biasa pun dapat dianggap sebagai petunjuk ketika seseorang sudah terbiasa mencari hubungan tertentu di sekitarnya.

Menjadikan Firasat atau Pikiran sebagai Petunjuk

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Firasat, pikiran, atau perasaan yang muncul sebelum suatu kejadian mulai dianggap sebagai petunjuk. Belum ada kejadian yang benar-benar terjadi, tetapi pikiran sudah memperkirakan apa yang akan terjadi setelahnya.

Misalnya sebelum pergi ke suatu tempat, tiba-tiba muncul perasaan tidak enak. Perasaan itu kemudian dianggap sebagai tanda bahwa perjalanan tersebut akan membawa masalah. Akhirnya, seseorang bisa membatalkan rencana hanya karena perasaan yang muncul sebelumnya.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang memikirkan kemungkinan gagal sebelum melakukan sesuatu. Belum tentu kegiatan itu gagal, tetapi pikiran tersebut sudah dianggap sebagai pertanda bahwa hasilnya tidak akan sesuai harapan.

Mimpi juga bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Seseorang bermimpi bertemu orang tertentu, kemudian beberapa hari setelahnya benar-benar bertemu atau mendapat kabar dari orang tersebut. Karena dua kejadian itu terasa berkaitan, mimpi sebelumnya bisa dianggap sebagai petunjuk.

Masalahnya, pikiran, perasaan, atau mimpi dapat muncul karena apa yang sedang dipikirkan, dikhawatirkan, atau dialami seseorang. Kemunculan perasaan tidak enak sebelum bepergian, misalnya, belum tentu menunjukkan bahwa perjalanan itu akan bermasalah.

Ketika sebuah firasat kebetulan sesuai dengan kejadian yang kemudian terjadi, keyakinan terhadap firasat tersebut bisa semakin kuat. Pengalaman itu lalu digunakan untuk mempercayai firasat berikutnya, meskipun banyak firasat lain yang sebelumnya tidak terbukti mungkin sudah terlupakan.

Pada tahap tertentu, firasat tidak lagi hanya dianggap sebagai perasaan yang muncul sesaat. Firasat mulai dijadikan dasar untuk menentukan apakah seseorang akan melakukan sesuatu, melanjutkan rencana, atau mengubah keputusan.

Lebih Mengingat Kejadian yang Sesuai dengan Keyakinan

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Cara seseorang mengingat kejadian yang pernah dialaminya. Dari banyak kejadian yang berlangsung, kejadian yang dianggap sesuai dengan keyakinan biasanya lebih mudah diingat daripada kejadian yang tidak sesuai.

Misalnya seseorang percaya bahwa tindakan tertentu dapat membantu mendapatkan hasil tertentu. Tindakan itu mungkin sudah dilakukan berkali-kali tanpa menghasilkan apa yang diharapkan. Namun, ketika suatu hari hasil yang diinginkan benar-benar muncul setelah tindakan tersebut dilakukan, kejadian itu bisa langsung dianggap sebagai bukti bahwa tindakannya memang berpengaruh.

Hal yang sama dapat terjadi pada firasat. Seseorang mungkin beberapa kali merasa tidak enak sebelum melakukan sesuatu, tetapi tidak terjadi masalah setelahnya. Ketika suatu saat perasaan tersebut muncul lalu benar-benar diikuti kejadian buruk, pengalaman itu bisa lebih mudah diingat karena terasa sesuai dengan firasat sebelumnya.

Pantangan pribadi juga dapat terbentuk dengan cara yang serupa. Beberapa kali seseorang melakukan sesuatu yang dianggap pantangan tanpa mengalami akibat apa pun. Namun, ketika suatu hari setelah melanggar pantangan tersebut muncul kejadian yang tidak menyenangkan, kedua kejadian itu bisa langsung dianggap mempunyai hubungan.

Akibatnya, kejadian yang tidak sesuai dengan keyakinan perlahan kurang diperhatikan, sementara kejadian yang dianggap cocok terus diingat. Pengalaman yang cocok kemudian dapat diceritakan kembali atau dijadikan pertimbangan ketika menghadapi kejadian serupa.

Tanpa disadari, cara mengingat seperti ini dapat membuat keyakinan terasa semakin kuat. Bukan karena kejadian yang sesuai selalu lebih banyak, tetapi karena kejadian tersebut mendapat perhatian lebih besar dibandingkan kejadian yang tidak mendukungnya.

Menghubungkan Kejadian yang Sebenarnya Terpisah

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Dua kejadian yang muncul berdekatan belum tentu mempunyai hubungan sebab dan akibat. Namun, ketika seseorang sudah terbiasa menghubungkan kejadian, tindakan yang dilakukan sebelumnya bisa dianggap sebagai penyebab dari hasil yang muncul setelahnya.

Misalnya seseorang melakukan suatu tindakan, kemudian beberapa waktu setelahnya mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut lalu dikaitkan dengan tindakan sebelumnya. Muncul pikiran bahwa kalau tindakan itu tidak dilakukan, hasilnya mungkin akan berbeda.

Hal yang sama bisa terjadi ketika hasil yang diinginkan justru muncul setelah tindakan tertentu. Karena hasilnya sesuai harapan, tindakan yang dilakukan sebelumnya dianggap sebagai penyebab keberhasilan tersebut.

Contohnya bisa terjadi dalam kegiatan sehari-hari. Seseorang memakai benda tertentu sebelum mendapatkan kabar baik, lalu menganggap benda itu membawa keberuntungan. Pada kesempatan berikutnya, benda yang sama kembali digunakan karena berharap hasil yang serupa.

Dalam usaha, hubungan seperti ini juga bisa muncul. Setelah melakukan suatu tindakan lalu penjualan meningkat, kenaikan tersebut langsung dianggap sebagai akibat dari tindakan tadi. Ketika penjualan kembali turun setelah tindakan itu tidak dilakukan, hubungan keduanya semakin terasa benar.

Padahal, satu kejadian yang muncul setelah kejadian lain belum otomatis menunjukkan bahwa kejadian pertama menjadi penyebabnya. Ada kemungkinan faktor lain ikut memengaruhi hasil yang terjadi.

Jika hubungan seperti ini terus dibuat, semakin banyak kejadian yang dapat dikaitkan satu sama lain. Tindakan tertentu dianggap menentukan hasil tertentu, lalu pengalaman sebelumnya digunakan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada kesempatan berikutnya.

Di situlah kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang semakin yakin bahwa hubungan yang dibuatnya memang benar, meskipun hubungan sebab dan akibatnya belum pernah benar-benar diketahui.

Kesimpulan

Setelah melihat kembali kebiasaan seperti mengaitkan kejadian, mencari pertanda, mempercayai firasat, sampai lebih mengingat kejadian yang terasa sesuai, aku jadi memahami bahwa cara berpikir seperti ini bisa muncul tanpa disadari.

Aku sendiri pernah mengalami masa ketika tindakan tertentu terasa perlu dilakukan agar hasilnya sesuai harapan. Kalau tidak dilakukan, muncul kekhawatiran akan gagal atau hasilnya tidak maksimal. Saat itu, hubungan antara tindakan dan hasil terasa masuk akal karena sudah terbentuk di dalam pikiranku.

Sekarang ketika melihatnya kembali, aku tidak menganggap pengalaman tersebut sebagai alasan untuk menyalahkan kepercayaan terhadap hal mistis. Yang lebih menarik bagiku adalah kebiasaan menghubungkan kejadian yang belum tentu mempunyai hubungan, kemudian menggunakan hubungan itu untuk menentukan tindakan berikutnya.

Kepercayaan tetap menjadi urusan masing-masing. Namun, ketika sebuah kejadian langsung dianggap sebagai akibat dari sesuatu yang belum diketahui, ada kemungkinan kita sedang mengambil kesimpulan sebelum melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Mungkin mengenali kebiasaan seperti ini tidak harus dimulai dari pertanyaan apakah seseorang percaya atau tidak percaya. Bisa dimulai dari melihat kembali cara kita mengambil kesimpulan ketika menghadapi kejadian sehari-hari.

Aku pun masih belajar mengenali bagian tersebut dalam diriku sendiri. Bukan untuk menghilangkan kepercayaan yang aku miliki, tetapi supaya aku tidak selalu menganggap setiap kejadian sebagai bukti dari apa yang sudah lebih dulu aku yakini.