“Ngertiin Aku Dong”: Validasi atau Manipulasi Emosi?

Memahami Suatu Kejadian
Pemahaman tentang berbagai kejadian dalam kehidupan melalui sudut pandang pikiran, persepsi, keyakinan, sugesti, dan cara manusia memberi makna terhadap suatu peristiwa.
Ilustrasi dua orang sedang berhadapan dalam percakapan, menggambarkan kalimat “Ngertiin aku dong” sebagai kemungkinan kebutuhan untuk dipahami atau manipulasi emosi, dalam gaya lukisan pensil hitam putih.
Di Balik Kalimat "Ngertiin Aku Dong": Validasi atau Manipulasi Emosi?

Kalimat “ngertiin aku dong” bisa muncul dalam banyak keadaan. Aku sendiri beberapa kali menemukannya dalam persoalan yang berbeda, mulai dari menagih utang, hubungan pasangan, pekerjaan, pertemanan, sampai organisasi.

Kalimat itu juga tidak selalu disampaikan dengan kata-kata yang sama. Kadang muncul melalui alasan tentang kebutuhan yang sedang mendesak atau situasi pribadi yang dianggap perlu dimaklumi.

Dari beberapa kejadian tersebut, aku mulai melihat satu pertanyaan. Ketika seseorang meminta untuk dimengerti, apakah dia juga melihat keadaan orang yang diminta untuk memahami?

Menurutku, meminta pengertian bukan sesuatu yang salah. Aku pun bisa berada di posisi yang sama. Ada kalanya aku ingin orang lain memahami masalah yang sedang aku hadapi atau kebutuhan yang sedang aku perlukan.

Karena itu, aku tidak ingin melihat persoalan ini dari siapa yang benar atau siapa yang salah. Aku lebih tertarik melihat bagaimana permintaan untuk dimengerti muncul dalam hubungan dengan orang lain, termasuk ketika aku sendiri berada di dalam situasi tersebut.

Dari situ muncul pertanyaan: di balik kalimat “ngertiin aku dong”, apakah seseorang sedang meminta validasi, atau tanpa disadari sedang membuat orang lain merasa harus mengalah?

Lanjut baca:

Mengapa Seseorang Mengatakan “Ngertiin Aku Dong”?

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Seseorang bisa mengatakan “ngertiin aku dong” karena ingin orang lain melihat apa yang sedang dia hadapi. Bentuknya bisa macam-macam. Ada yang sedang punya kebutuhan, menghadapi masalah, ingin dimaklumi, atau ingin menjelaskan alasan di balik sikapnya.

Hal seperti ini sebenarnya wajar. Aku pun bisa berada di posisi yang sama ketika sedang punya kebutuhan atau menghadapi masalah. Persoalannya muncul ketika seseorang hanya menjelaskan keadaan dirinya tanpa mencoba melihat orang yang sedang berhadapan dengannya.

Misalnya saat menagih utang. Seseorang sedang tidak punya uang dan meminta sebagian uang yang sebelumnya dipinjam untuk memenuhi kebutuhannya. Orang yang ditagih kemudian menjelaskan bahwa dirinya juga sedang tidak punya uang dan hanya memiliki dua batang rokok untuk hari itu.

Dia memang bisa saja sedang kesulitan. Tetapi orang yang menagih juga sedang membutuhkan uang tersebut. Bahkan, dalam contoh ini, dia sudah tidak punya uang untuk membeli rokok, sedangkan orang yang ditagih masih memiliki dua batang untuk hari itu.

Di situ aku melihat bahwa keinginan untuk dimengerti bisa datang dari dua pihak. Orang yang sedang mengalami kesulitan boleh menjelaskan kondisinya, tetapi orang yang mendengarkan juga punya kebutuhan dan keterbatasan yang perlu diperhatikan.

Persoalannya bukan siapa yang lebih pantas untuk dimengerti. Yang penting adalah apakah masing-masing masih mau melihat kondisi orang yang sedang berhadapan dengannya.

Ketika “Ngertiin Aku Dong” Menjadi Permintaan Validasi

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Meminta untuk dimengerti tidak selalu berarti seseorang ingin dibenarkan. Bisa saja dia hanya ingin kondisinya dilihat dan perasaannya tidak langsung dianggap salah.

Misalnya seseorang sedang punya masalah lalu menjelaskan alasan di balik tindakannya. Mendengarkan penjelasan itu bisa menjadi bentuk saling memahami. Kita dapat mengetahui apa yang sedang dia hadapi tanpa harus menyetujui semua yang dia lakukan.

Namun, permintaan untuk dimengerti bisa menjadi berbeda ketika hanya datang dari satu arah. Seseorang ingin kondisinya dipahami, tetapi tidak mau melihat kondisi orang lain yang ikut terlibat.

Kepentingan bersama saja membutuhkan saling pengertian. Apalagi jika kepentingannya hanya untuk diri sendiri tetapi melibatkan orang lain, kondisi orang lain tetap perlu diperhatikan.

Aku pernah melihat orang yang merasa karena sudah berkeluarga, kebutuhannya otomatis lebih besar daripada orang yang belum berkeluarga. Padahal, belum berkeluarga bukan berarti tidak mempunyai kebutuhan atau persoalan sendiri.

Dari situ aku melihat bahwa validasi tidak harus berarti membenarkan. Seseorang bisa menjelaskan kesulitannya dan berharap orang lain memahami kondisi tersebut tanpa menjadikan kesulitannya sebagai alasan untuk menganggap kebutuhan orang lain tidak penting.

Kalau pengertian hanya berjalan satu arah, hubungan itu akhirnya tidak lagi memberi ruang yang sama untuk kedua pihak.

Kapan Permintaan Pengertian Berubah Menjadi Manipulasi Emosi?

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Meminta orang lain untuk mengerti bukan masalah. Aku pun bisa berada dalam posisi ingin dipahami ketika sedang menghadapi masalah atau mempunyai kebutuhan tertentu.

Yang mulai mengganggu adalah ketika seseorang terus membawa persoalannya sendiri setelah orang lain sudah menjelaskan kondisi yang sedang dihadapi. Penjelasan dari pihak lain seperti tidak masuk dalam pertimbangannya. Dia tetap kembali pada kebutuhan dirinya dan menganggap persoalannya lebih penting.

Pola seperti ini bisa muncul dalam hubungan pasangan, pertemanan, pekerjaan, organisasi, maupun persoalan uang. Bentuknya tidak selalu berupa kalimat “ngertiin aku dong”. Bisa juga melalui alasan tentang keluarga, kebutuhan pribadi, pekerjaan, atau kesulitan yang sedang dialami.

Aku melihat ada perbedaan antara orang yang belum mengetahui kondisi orang lain dengan orang yang sudah diberi penjelasan tetapi tetap tidak bisa melihatnya. Kalau seseorang memang belum tahu lalu bisa memahami setelah dijelaskan, persoalannya berbeda.

Yang menjadi masalah adalah ketika penjelasan sudah diberikan, tetapi dia tetap menganggap dirinya yang paling membutuhkan pengertian. Kondisi orang lain tetap dianggap lebih ringan, sementara dirinya ditempatkan sebagai pihak yang paling perlu dimaklumi.

Pada titik itu, permintaan pengertian bisa berubah menjadi tekanan emosional. Bukan karena seseorang sedang menceritakan kesulitannya, tetapi karena kesulitan tersebut terus digunakan untuk membuat orang lain mengalah dan mengesampingkan kondisinya sendiri.

Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa setiap orang yang bersikap seperti itu sengaja memanipulasi. Ada yang mungkin terlalu fokus pada masalah dirinya sampai tidak mampu melihat sudut pandang orang lain. Tetapi ketika kondisi orang lain sudah dijelaskan dan tetap tidak dianggap penting, menurutku pola itu memang perlu diperhatikan.

Membedakan Pengertian, Validasi, dan Manipulasi

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Saling mengerti berarti kedua pihak terbuka tentang kondisi masing-masing. Ketika ada persoalan yang melibatkan dua orang atau lebih, masing-masing bisa menjelaskan kebutuhannya lalu mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Misalnya seseorang kehilangan pekerjaan ketika istrinya baru melahirkan anak kedua. Dia sedang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketika dia menjelaskan kondisi tersebut kepada orang lain, menurutku itu masih sebatas menjelaskan keadaan. Dia sedang menyampaikan alasan agar orang lain mengetahui apa yang sedang dia hadapi.

Penjelasan itu berbeda ketika mulai disertai perbandingan dengan kondisi orang lain. Misalnya dia mengatakan bahwa orang yang dia mintai bantuan masih sendiri sehingga tidak mempunyai kebutuhan sebesar dirinya. Apalagi jika perbandingan tersebut kemudian digunakan sebagai alasan agar orang itu mau meminjamkan uang.

Di situ pembicaraan tidak lagi hanya mengenai kondisi dirinya. Dia sudah menilai kebutuhan orang lain berdasarkan keadaan yang dia lihat dari luar. Padahal orang yang belum berkeluarga tetap bisa mempunyai kebutuhan, tanggungan, atau kesulitan yang tidak dia ketahui.

Validasi juga tidak harus berarti memberikan apa yang diminta. Seseorang bisa mengakui bahwa orang lain sedang kesulitan tanpa harus menyetujui permintaannya. Penjelasan tentang masalah pribadi bisa didengar tanpa menjadikan masalah tersebut sebagai alasan untuk mengesampingkan kepentingan pihak lain.

Sedangkan manipulasi mulai terlihat ketika kondisi pribadi digunakan untuk menekan orang lain agar memenuhi keinginan. Terlebih jika orang tersebut sudah mengetahui keadaan pihak lain, tetapi tetap menganggap kebutuhannya sendiri lebih penting.

Kalau persoalannya menyangkut kepentingan bersama, kedua pihak masih bisa membicarakan pilihan yang tersedia. Jika hanya menyangkut kepentingan pribadi tetapi membutuhkan bantuan orang lain, menurutku pertimbangan terhadap kondisi pihak lain justru perlu lebih diperhatikan.

Dengan begitu, menjelaskan kondisi tetap bisa dilakukan tanpa mengecilkan kebutuhan orang lain. Pengertian tidak harus berakhir dengan satu pihak mengalah, dan penolakan terhadap sebuah permintaan juga tidak otomatis berarti tidak memahami.

Memahami Tanpa Harus Selalu Menyetujui

Buka pembahasan Tutup pembahasan

Memahami seseorang tidak berarti harus mengabulkan apa yang dia minta. Ketika seseorang menjelaskan alasannya, kita bisa mengetahui kenapa dia membutuhkan sesuatu tanpa harus mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginannya.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, kita tetap mempunyai pertimbangan sendiri. Kondisi keuangan, kebutuhan, pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab yang sedang dijalani bisa memengaruhi keputusan yang kita ambil.

Misalnya seseorang membutuhkan uang untuk keluarganya. Alasan itu bisa dipahami, tetapi orang yang dimintai bantuan mungkin sedang tidak mempunyai uang atau sedang membutuhkan uang untuk keperluannya sendiri. Dalam situasi seperti itu, menolak memberikan pinjaman tidak berarti dia tidak memahami kesulitan orang yang meminta.

Aku melihat bahwa mendengarkan alasan dan menentukan keputusan adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa memahami kenapa orang lain membutuhkan bantuan, tetapi tetap mengatakan tidak karena pertimbangannya sendiri tidak memungkinkan.

Karena itu, permintaan untuk dimengerti tidak seharusnya menghilangkan ruang bagi orang lain untuk mempertimbangkan kebutuhannya sendiri. Memahami bukan berarti menyerahkan keputusan kepada orang yang meminta untuk dimengerti.

Kesimpulan

Setelah melihat beberapa kejadian seperti itu, aku tidak ingin buru-buru menganggap kalimat “ngertiin aku dong” sebagai validasi atau manipulasi. Kalimat tersebut bisa muncul ketika seseorang memang sedang membutuhkan pengertian, termasuk ketika aku sendiri berada dalam posisi yang sama.

Yang kemudian menjadi penting adalah apakah orang yang meminta pengertian juga mau melihat keadaan orang yang diajak berhadapan. Memiliki masalah atau kebutuhan tidak otomatis membuat kebutuhan orang lain menjadi lebih ringan.

Dari situ aku melihat satu hal yang sederhana: lebih baik ngertiin dulu sebelum meminta orang lain untuk mengerti.

Kalau persoalannya melibatkan orang lain, masing-masing bisa terbuka tentang kebutuhannya dan mencari jalan keluar yang bisa diterima bersama. Kalau permintaannya tidak bisa dipenuhi, penolakan juga tidak otomatis berarti orang tersebut tidak memahami.

Aku pun masih berada dalam posisi untuk belajar melihat kondisi orang lain. Jadi, pembahasan ini bukan tentang menempatkan diri sebagai orang yang sudah paling mengerti, tetapi tentang mengingat bahwa ketika meminta orang lain memahami diri kita, ada orang lain yang juga sedang mempunyai kondisi dan pertimbangannya sendiri.