Kalau Sudah Waktunya, Itu Khayalan atau Optimisme?
“Kalau sudah waktunya.” Kalimat ini cukup mudah muncul ketika membicarakan sesuatu yang belum terjadi. Kesuksesan, pertemuan dengan seseorang, hubungan yang diinginkan, atau kehidupan yang terasa lebih baik bisa saja dibayangkan dengan ucapan tersebut. Ada harapan terhadap masa depan, tetapi kapan hal itu terjadi belum diketahui.
Untuk diri sendiri, bayangan yang muncul biasanya mengarah kepada hasil yang diinginkan. “Kalau sudah waktunya pasti sukses” terdengar lebih menyenangkan daripada “kalau sudah waktunya pasti gagal” atau “kalau sudah saatnya pasti sial.” Pilihan hasil yang dibayangkan ikut memengaruhi cara seseorang memandang sesuatu yang belum terjadi.
Ucapan tersebut juga dapat diarahkan kepada orang lain dengan maksud yang berbeda. Dalam satu keadaan, kalimat itu mungkin digunakan untuk menanggapi harapan seseorang. Dalam keadaan lain, bisa saja hanya menjadi bagian dari percakapan tentang apa yang sedang dialami. Maksudnya tidak selalu sama karena situasi dan orang yang mengucapkannya juga berbeda.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah ketika seseorang membayangkan hasil yang indah lalu percaya bahwa hasil itu akan datang saat waktunya tiba, apakah ia sedang berkhayal atau sedang optimis? Keduanya sama-sama berbicara tentang masa depan yang belum diketahui, tetapi cara seseorang memperlakukan harapan tersebut dapat menunjukkan perbedaan di antara keduanya.
Ketika Seseorang Berkata “Kalau Sudah Waktunya”
Buka pembahasan Tutup pembahasan
“Kalau sudah waktunya” biasanya muncul ketika seseorang menginginkan hasil tertentu tetapi tidak mengetahui kapan hasil itu akan datang. Kesuksesan, hubungan, kesempatan, atau keadaan yang lebih baik dapat ditempatkan dalam bayangan masa depan tanpa harus menentukan tanggal kapan semuanya terjadi.
Menurutku, ada unsur pasrah dalam ucapan tersebut. Pasrah yang dimaksud bukan berhenti melakukan sesuatu, melainkan menerima bahwa waktu terjadinya sebuah hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendali. “Nanti” juga tidak selalu berarti beberapa tahun lagi. Bisa saja malam ini, besok, minggu depan, atau waktu yang bahkan belum terpikirkan.
Contoh paling sederhana adalah ketika sedang lapar. Aku bisa berkata, “kalau sudah waktunya aku akan kenyang,” tetapi rasa kenyang tidak akan datang hanya karena kalimat itu. Aku tetap perlu makan. Jika makanan pertama belum cukup, aku bisa menambah makanan atau minum. Setelah itu pun jumlah yang dibutuhkan tidak selalu sama karena aku bisa saja masih lapar atau justru merasa terlalu kenyang.
Pengalaman sederhana tersebut menunjukkan bahwa waktu dan tindakan memiliki posisi yang berbeda. Aku dapat melakukan sesuatu untuk mendekati keadaan yang diinginkan, tetapi tidak dapat menetapkan dengan tepat kapan hasilnya muncul. Usaha juga tidak selalu menghasilkan ukuran yang sama. Ada orang yang sudah berusaha keras tetapi belum mendapatkan hasil, sementara orang lain memperoleh hasil dengan usaha yang terlihat lebih sedikit karena memiliki kondisi, kesempatan, atau kemampuan yang berbeda.
Pemahaman seperti itu membuat ucapan “kalau sudah waktunya” tidak harus berarti menunggu. Seseorang masih dapat melakukan tindakan yang menurutnya diperlukan sambil menerima bahwa kapan hasil tersebut muncul bukan sesuatu yang bisa ia pastikan. Keinginan tetap memiliki arah, sedangkan waktunya masih terbuka.
Ada pula sisi yang menurutku perlu diperhatikan. Jika ucapan tersebut dipahami terlalu mutlak, seseorang bisa menganggap bahwa sebanyak apa pun usaha yang dilakukan tidak akan berpengaruh sebelum waktunya tiba. Sebaliknya, keberhasilan yang muncul setelah usaha kecil dapat dianggap sebagai bukti bahwa waktunya memang sudah datang. Cara berpikir seperti ini bisa terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu menjelaskan hubungan sebenarnya antara tindakan dan hasil.
Perbedaan pandangan mengenai hal tersebut menurutku wajar. Ada yang melihat keberhasilan terutama dari usaha, ada yang lebih memperhatikan kesempatan dan keadaan, sementara sebagian orang menghubungkannya dengan waktu yang dianggap tepat. Bahkan pandangan seseorang dapat berubah setelah mengalami kejadian yang berbeda.
Bagiku, “kalau sudah waktunya” lebih tepat dipahami sebagai ucapan tentang sesuatu yang waktunya belum diketahui. Kalimat itu dapat muncul bersama usaha maupun saat seseorang sedang menerima keadaan yang belum bisa ia tentukan. Yang belum dapat dipastikan bukan hanya kapan hasilnya datang, tetapi juga apakah hasil tersebut akan benar-benar sesuai dengan apa yang sejak awal dibayangkan.
Harapan terhadap Sesuatu yang Belum Terjadi
Buka pembahasan Tutup pembahasan
Keinginan terhadap masa depan dapat membuat seseorang membayangkan keadaan yang belum ia alami. Orang yang ingin sukses, misalnya, mungkin tidak hanya memikirkan keberhasilannya, tetapi juga membayangkan kehidupan setelah berhasil atau munculnya keinginan baru setelah tujuan tersebut tercapai. Bayangan seperti itu tumbuh dari apa yang sedang diinginkan.
Menurutku, angan-angan semacam itu belum perlu langsung dianggap sebagai khayalan. Selama yang dibayangkan masih dipahami sebagai kemungkinan, pikiran tetap memiliki ruang untuk menerima kenyataan yang berbeda. Harapan memang berbicara tentang sesuatu yang belum ada di depan mata, sehingga wajar jika di dalamnya terdapat gambaran mengenai keadaan yang ingin dicapai.
Cara untuk mengejar keinginan pun tidak selalu hanya satu. Misalnya ada orang yang ingin sukses melalui usaha tertentu, tetapi setelah dicoba ternyata kemampuan atau keadaan yang dimiliki belum mendukung. Tujuan tersebut belum tentu harus ditinggalkan. Cara pertama dapat diganti dengan pendekatan lain yang lebih sesuai, sementara keinginan dasarnya masih tetap sama.
Kemampuan untuk mengubah cara membuat angan-angan tidak berhenti sebagai gambaran. Ada kesempatan untuk menguji apakah keinginan tersebut memang bisa didekati melalui tindakan yang tersedia. Hasil percobaan itu bisa membawa seseorang semakin dekat, menunjukkan bahwa caranya perlu diperbaiki, atau justru memperlihatkan bahwa tujuan tersebut belum dapat dicapai dengan kemampuan yang dimiliki.
Batas kemampuan tetap perlu diperhitungkan. Tidak semua keinginan dapat diwujudkan hanya karena seseorang menginginkannya. Namun, apa yang terlihat mustahil pada satu kondisi belum tentu selamanya tidak memiliki jalan. Keinginan manusia untuk terbang dapat menjadi contoh. Tubuh manusia tidak memiliki kemampuan untuk terbang seperti burung, tetapi manusia kemudian membuat pesawat untuk mencapai tujuan yang sebelumnya tidak dapat dilakukan secara langsung.
Contoh tersebut bukan berarti setiap angan-angan pasti bisa diwujudkan. Ada keinginan yang memang berada di luar kemampuan seseorang, bahkan mungkin berada di luar kemampuan manusia dengan teknologi yang tersedia. Yang menarik justru ketika sebuah bayangan membuat seseorang mencari tahu batas yang dimiliki dan melihat apakah masih ada cara lain yang dapat dicoba.
Bayangan masa depan kemudian menjadi lebih rumit ketika seseorang mulai memperlakukannya sebagai sesuatu yang pasti terjadi. Pada tahap ini, ucapan seperti “kalau sudah waktunya pasti terjadi” tidak lagi hanya menggambarkan keinginan, tetapi sudah berkaitan dengan keyakinan terhadap hasil yang belum terlihat. Persoalan tersebut akan menjadi penting ketika keyakinan itu berhadapan dengan tindakan dan kenyataan.
Harapan sendiri tidak hanya ditentukan oleh indahnya keadaan yang dibayangkan. Di dalamnya ada keinginan, kemungkinan, cara yang dapat dicoba, serta kesadaran bahwa keadaan sebenarnya masih berada di depan. Karena itu, memiliki gambaran mengenai masa depan belum cukup untuk menentukan apakah seseorang sedang berkhayal atau sedang memelihara harapan yang ingin diwujudkan.
Ketika Harapan Berubah Menjadi Khayalan
Buka pembahasan Tutup pembahasan
Bayangan mengenai masa depan mulai menjadi persoalan ketika apa yang diinginkan tidak lagi dianggap sebagai kemungkinan, melainkan sebagai sesuatu yang pasti terjadi. Kalimat “kalau sudah waktunya pasti terjadi” dapat berubah dari ungkapan harapan menjadi keyakinan mutlak. Apa pun yang dilakukan dianggap tidak akan mengubah hasil sebelum waktu yang dipercaya itu tiba.
Keyakinan seperti ini dapat terlihat ketika seseorang ingin sukses, bahagia, berhasil, memiliki hubungan tertentu, atau mendapatkan kehidupan yang diinginkan. Ia bukan hanya membayangkan hasil tersebut, tetapi sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang pasti menjadi miliknya. Ketika belum mendapatkannya, jawaban yang digunakan cukup sederhana: “berarti belum waktunya.”
Masalahnya muncul ketika jawaban tersebut membuat seseorang tidak lagi mencari penyebab dari kegagalan. Cara yang sudah dicoba tidak dievaluasi, kesalahan tidak diperiksa, dan kemungkinan lain tidak dipertimbangkan karena semua sudah dikembalikan kepada waktu. Akibatnya, tidak ada alasan untuk mengubah pendekatan meskipun cara sebelumnya jelas belum menghasilkan apa yang diharapkan.
Perputaran seperti itu dapat berlangsung cukup lama. Percobaan tidak menghasilkan keberhasilan, keadaan disebut belum waktunya, kemudian tidak ada perubahan berarti dan hasil yang sama kembali muncul. Jawaban yang digunakan tetap sama sehingga seseorang bisa berada di tempat yang sama tanpa benar-benar mengetahui apa yang membuat tujuannya belum tercapai.
Hal yang membuatnya semakin dekat dengan khayalan adalah ketika bayangan tersebut tidak lagi berhadapan dengan kenyataan. Keinginan untuk memiliki usaha, misalnya, membutuhkan kegiatan nyata seperti membuat produk, menawarkan barang, mencari pelanggan, mengelola uang, atau memperbaiki cara berjualan. Tanpa tindakan yang berhubungan dengan tujuan itu, keyakinan bahwa suatu hari kesuksesan pasti datang hanya menjadi gambaran di dalam pikiran.
Keadaan berbeda ketika seseorang sudah mencoba tetapi hasilnya belum sesuai. Kegagalan seperti itu tidak perlu langsung dianggap sebagai bukti bahwa harapannya hanya khayalan. Yang perlu dilihat adalah apakah ia masih mau memperhatikan apa yang terjadi dan mempertimbangkan langkah berikutnya. Ada perbedaan antara belum berhasil setelah mencoba dengan tidak mencoba karena yakin hasilnya akan datang sendiri.
Menurutku, khayalan dalam konteks ini bukan sekadar membayangkan kehidupan yang menyenangkan. Aku juga bisa membayangkan sukses, bahagia, kaya, memiliki pasangan, atau keadaan lain yang aku inginkan. Persoalannya muncul ketika bayangan tersebut dianggap sebagai kepastian sementara tindakan nyata tidak ada dan kenyataan yang berlawanan terus diabaikan.
Ucapan “belum waktunya” juga tidak selalu menjadi masalah. Kalimat itu masih bisa digunakan untuk menerima bahwa sebuah hasil memang belum terjadi. Yang membuatnya berbeda adalah ketika kalimat tersebut dipakai berulang kali untuk menghindari pertanyaan yang lebih nyata: apa yang sudah dilakukan, apa yang belum berhasil, dan apakah ada cara lain yang perlu dicoba.
Ketika Harapan Menjadi Optimisme
Buka pembahasan Tutup pembahasan
Harapan mulai terasa sebagai optimisme ketika kemungkinan baik masih dilihat sebagai sesuatu yang dapat diperjuangkan, bukan sebagai kepastian. Ada keinginan terhadap hasil tertentu, tetapi hasil tersebut belum dianggap sudah berada di tangan. Karena itu, tindakan tetap menjadi bagian dari cara mendekatinya.
Bayangkan orang yang ingin sukses dan menjadi kaya. Ia bekerja, membuka bisnis, mencari pelanggan, mengembangkan produk, serta mencoba meningkatkan penghasilannya. Belum tentu semua langkah itu berhasil, tetapi ada hubungan yang jelas antara apa yang diinginkan dengan kegiatan yang dilakukan.
Tindakan tersebut juga tidak harus sempurna. Orang yang rajin mengembangkan bisnis tetapi masih sering menghabiskan uang untuk kesenangan tetap bisa memiliki harapan terhadap masa depan yang lebih baik. Hanya saja, kebiasaan tersebut dapat menghambat tujuan keuangannya. Memiliki pandangan positif terhadap masa depan tidak otomatis membuat setiap keputusan yang diambil menjadi tepat.
Dasarnya adalah hubungan yang masuk akal antara tujuan dan langkah yang ditempuh. Keinginan untuk menjadi kaya, misalnya, akan lebih masuk akal jika disertai kegiatan yang memang dapat menghasilkan atau mengembangkan penghasilan. Sebaliknya, hanya menunggu kekayaan datang karena merasa waktunya sudah tiba tidak menunjukkan hubungan yang sama.
Keyakinan untuk berhasil pun tidak harus mencapai seratus persen. Ada kemungkinan gagal, rencana dapat berubah, dan cara yang dipilih mungkin ternyata tidak cocok. Ketika itu terjadi, masih ada ruang untuk melihat penyebabnya, memperbaiki langkah, mencari pendekatan lain, atau menerima bahwa tujuan tersebut belum tercapai.
Keberanian kemudian menjadi salah satu sisi yang berdekatan dengan sikap optimis. Memulai usaha, menawarkan produk, mencoba pekerjaan baru, atau mengulang percobaan setelah mengalami kegagalan membutuhkan keberanian karena hasilnya belum dapat diketahui. Namun, keberanian tidak sama dengan bertindak tanpa pertimbangan. Keputusan yang diambil tetap dapat memperhitungkan kemampuan, risiko, biaya, dan akibat yang mungkin muncul.
Menurutku, optimisme justru terlihat ketika seseorang mengetahui bahwa keberhasilan belum dijamin tetapi masih melihat alasan untuk mencoba. Ia tidak membutuhkan kepastian mutlak untuk bergerak. Harapan tetap ada, sementara kenyataan tetap diperhatikan selama proses berlangsung.
Kalimatnya mungkin sesederhana, “Aku ingin berhasil dan aku akan mencoba.” Ada keyakinan bahwa hasil baik mungkin dicapai, tetapi tidak ada janji bahwa hasil tersebut pasti datang. Selama harapan masih memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dan tindakan tetap berjalan, optimisme tidak hanya menjadi bayangan tentang masa depan.
Khayalan atau Optimisme?
Buka pembahasan Tutup pembahasan
Kalimat yang sama belum tentu menunjukkan sikap yang sama. “Kalau sudah waktunya, pasti terjadi” dapat diucapkan oleh orang yang sudah berusaha maupun oleh orang yang hanya menunggu. Begitu pula “aku pasti sukses” bisa berasal dari keyakinan yang memiliki alasan atau sekadar keinginan yang dianggap sebagai kepastian.
Bayangkan dua orang mengatakan, “aku pasti sukses kalau sudah waktunya.” Orang pertama sudah bekerja, menjalankan bisnis, mencari pelanggan, menghitung kemampuan, melihat perkembangan, dan mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul. Orang kedua tidak melakukan tindakan yang berkaitan dengan tujuan tersebut dan hanya percaya bahwa keberhasilan akan datang ketika waktunya tiba. Kalimatnya sama, tetapi dasar keyakinannya berbeda.
Dari kedua contoh itu, menurutku orang pertama lebih masuk akal. Bukan karena perhitungannya pasti benar, melainkan karena keyakinannya memiliki hubungan dengan tindakan dan keadaan yang dapat diamati. Ia memiliki alasan untuk memperkirakan kemungkinan berhasil, meskipun perkiraan tersebut tetap dapat meleset ketika diterapkan dalam praktik.
Perhitungan yang terlihat tepat hari ini masih bisa berhadapan dengan kondisi yang tidak diperkirakan sebelumnya. Rencana bisnis dapat terganggu, pelanggan dapat berkurang, biaya dapat meningkat, atau kemampuan yang dimiliki ternyata belum cukup. Kegagalan dalam situasi seperti itu tidak otomatis mengubah keyakinan sebelumnya menjadi khayalan. Bisa saja keputusan yang dibuat memang masuk akal berdasarkan informasi yang tersedia saat itu.
Hal yang berbeda terjadi ketika satu kalimat digunakan sebagai jawaban untuk semua keadaan. Gagal disebut belum waktunya, berhasil disebut sudah waktunya, cara yang tidak berhasil dibiarkan tanpa perubahan karena waktunya dianggap belum tiba. Bahkan ketika ada masalah yang jelas membutuhkan perbaikan, semuanya kembali dijelaskan dengan kalimat yang sama.
Keyakinan yang sudah sangat kuat bahkan dapat membuat seseorang berkata dengan lantang, “memang belum waktunya. Kalau sudah waktunya ya pasti.” Tidak ada ruang untuk mempertanyakan cara yang digunakan karena hasil akhirnya sudah dianggap memiliki kepastian. Dalam kondisi seperti itu, kalimat tersebut lebih sulit digunakan untuk menilai keadaan secara nyata.
Sebaliknya, ada orang yang mengucapkan “kalau sudah waktunya” sambil tetap mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui kapan waktu itu datang. Ia sudah mencoba, masih bersedia memperbaiki cara, dan tidak menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa semua usaha sia-sia. Baginya, ucapan tersebut hanya menggambarkan bahwa waktu hasil memang belum dapat ditentukan.
Perbandingan ini membuatku melihat bahwa kata-katanya sendiri tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang sedang berkhayal atau optimis. Dasar keyakinan, tindakan yang sudah dilakukan, kemampuan membaca keadaan, serta kesediaan menerima hasil yang berbeda jauh lebih penting untuk melihat perbedaannya.
Kalau seseorang hanya menunggu karena percaya hasil pasti datang tanpa melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan, aku lebih dekat menyebutnya sebagai ngayal. Sebaliknya, ketika ada usaha yang masuk akal, keberanian untuk mencoba, dan kesadaran bahwa kegagalan tetap mungkin terjadi, aku lebih melihatnya sebagai optimisme.
Jadi, perbedaannya bukan terletak pada seberapa yakin seseorang mengucapkan kata “pasti”. Yang lebih menentukan adalah apakah keyakinan tersebut memiliki dasar dan masih dapat berhadapan dengan kenyataan ketika hasil yang muncul ternyata tidak sesuai perkiraan.
“Sudah Waktunya” Tidak Bisa Menentukan Hasil
Buka pembahasan Tutup pembahasan
Ucapan “sudah waktunya” baru terdengar mudah setelah sebuah kejadian benar-benar terjadi. Ketika seseorang belum berhasil, orang dapat mengatakan bahwa waktunya belum tiba. Setelah keberhasilan muncul, penjelasannya berubah menjadi, “nah, sudah waktunya.” Masalahnya, sebelum kejadian berlangsung, tidak ada kepastian mengenai kapan waktu yang dimaksud sebenarnya datang.
Pola yang sama dapat muncul ketika keadaan berubah lagi. Seseorang yang pernah berhasil kemudian bangkrut, kehilangan pekerjaan, berpisah, atau menghadapi kesulitan dapat kembali disebut sedang berada pada “waktu yang belum tepat”. Sebaliknya, orang yang bertahun-tahun mengalami kegagalan lalu berhasil pada satu kesempatan dapat dikatakan akhirnya menemukan waktunya.
Jika setiap perubahan selalu dijelaskan dengan cara tersebut, kalimat “sudah waktunya” dan “belum waktunya” menjadi sangat mudah digunakan. Kegagalan memiliki jawaban, keberhasilan memiliki jawaban, bahkan kemunduran setelah keberhasilan pun dapat diberi jawaban yang sama. Tidak ada hasil yang benar-benar membantah keyakinan tersebut karena apa pun yang terjadi selalu bisa dimasukkan ke dalam penjelasannya.
Menurutku, di situlah keterbatasan kalimat tersebut terlihat. Aku masih bisa menggunakannya untuk menyatakan bahwa waktu terjadinya suatu kejadian memang belum diketahui. Namun, aku tidak bisa menjadikannya sebagai bukti bahwa hasil tertentu pasti akan datang. Kalau keberhasilan terjadi, baru setelah itu orang dapat mengatakan bahwa keberhasilan tersebut memang terjadi pada waktu tertentu. Sebelum kejadian berlangsung, waktunya masih berupa perkiraan.
Keadaan yang sudah berubah juga tidak selalu berhenti pada satu hasil. Mendapatkan pekerjaan tidak berarti pekerjaan itu akan selamanya ada. Bisnis yang berkembang masih bisa mengalami penurunan. Hubungan yang berjalan baik tetap dapat menghadapi masalah. Keberhasilan pada satu waktu tidak otomatis menjadi jaminan bahwa keadaan berikutnya akan sama.
Karena itu, aku lebih memilih melihat “kalau sudah waktunya” sebagai cara untuk menerima sesuatu yang belum dapat dipastikan, bukan sebagai kepastian mengenai masa depan. Aku bisa percaya bahwa sesuatu mungkin terjadi nanti tanpa menganggap bahwa aku sudah mengetahui kapan waktunya atau bagaimana hasilnya.
Usaha tetap punya tempat di dalamnya. Kalau ada tujuan yang ingin dicapai, aku masih bisa bekerja, mencoba, memperbaiki cara, mencari kesempatan lain, atau mengubah rencana ketika keadaan menuntutnya. Hasilnya mungkin sesuai dengan yang diharapkan, mungkin berbeda, atau mungkin tidak tercapai. Semua kemungkinan itu tetap terbuka selama kejadian sebenarnya belum berlangsung.
Dengan begitu, kalimat tersebut tidak perlu menjadi jawaban untuk setiap kejadian. Ketika belum berhasil, tidak harus selalu berhenti pada “belum waktunya”. Ada kemungkinan cara yang digunakan memang belum tepat, kemampuan masih perlu ditambah, kesempatan belum tersedia, atau ada faktor lain yang perlu dilihat. Begitu pula ketika berhasil, tidak harus menganggap bahwa keberhasilan itu hanya membuktikan sebuah waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
Aku masih bisa mengatakan, “kalau sudah waktunya, mungkin akan terjadi.” Kata “mungkin” menjadi penting karena aku memang tidak mengetahui masa depan. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah menjalankan apa yang masih bisa dikerjakan dan melihat apa yang benar-benar terjadi ketika waktunya berjalan.
Mungkin sesederhana itu. Harapan boleh mengarah kepada kesuksesan, kebahagiaan, hubungan yang baik, kehidupan yang lebih baik, atau keinginan lain. Namun, apakah semuanya benar-benar terjadi, kapan terjadinya, dan seperti apa hasil yang datang tidak bisa ditentukan hanya dari ucapan “sudah waktunya”.
Kesimpulan
“Kalau sudah waktunya” menurutku tidak bisa langsung dimasukkan sebagai khayalan ataupun optimisme. Kalimat itu lebih tepat dilihat dari cara seseorang mempercayainya. Ada orang yang mengucapkannya sambil terus berusaha, tetapi ada juga yang menjadikannya alasan untuk menunggu tanpa melakukan apa-apa.
Keyakinan yang disertai tindakan, pertimbangan, dan kesediaan menerima kemungkinan gagal lebih masuk akal daripada sekadar menunggu hasil datang. Namun, usaha yang masuk akal pun tetap tidak membuat keberhasilan menjadi pasti. Perhitungan dapat meleset, kemampuan memiliki batas, keadaan dapat berubah, dan faktor yang tidak diketahui bisa memengaruhi hasil.
Kegagalan juga tidak otomatis membuktikan bahwa harapan sebelumnya hanya khayalan. Begitu pula keberhasilan tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang memang sudah mengetahui waktunya sejak awal. Hasil baru dapat dilihat setelah kejadian berlangsung, sedangkan sebelum itu yang tersedia hanyalah perkiraan, harapan, dan tindakan yang sedang dilakukan.
Aku sendiri masih bisa mengatakan, “kalau sudah waktunya, mungkin akan terjadi,” sambil tetap berusaha mendekatinya. Aku tidak perlu mengetahui kapan waktu tersebut datang atau memastikan bentuk hasilnya sejak sekarang. Selama masih ada cara yang dapat dicoba, aku bisa mengerjakannya dan melihat apa yang terjadi.
Jadi, pertanyaan tentang “sudah waktunya atau belum” menurutku bukan satu-satunya hal yang perlu dilihat. Ada pertanyaan lain yang lebih dekat dengan kenyataan: apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah dicoba, apa yang belum berhasil, dan apakah masih ada cara lain yang dapat ditempuh. Hasil akhirnya tetap baru bisa diketahui ketika benar-benar terjadi.
